Kebijakan Pemerintahan
Herman W. Daendels
Herman W. Daendels
Sebagai seorang revolusioner, Daendels sangat
mendukung perubahan-perubahan liberal. Beliau juga bercita-cita untuk
memperbaiki nasib rakyat dengan memajukan pertanian dan perdagangan. Akan
tetapi, dalam melakukan kebijakan-kebijakannya beliau bersikap diktator
sehingga dalam masa pemerintahannya yang singkat, yang diingat rakyat hanyalah
kekejamannya. Pembaruan-pembaruan yang dilakukan.
Bidang Birokrasi Pemerintahan
- Dewan Hindia Belanda sebagai dewan legislatif pendamping gubernur jenderal dibubarkan dan diganti dengan Dewan Penasihat. Salah seorang penasihatnya yang cakap ialah Mr. Muntinghe.
- Pulau Jawa dibagi menjadi 9 prefektuur dan 31 kabupaten. Setiap prefektuur dikepalai oleh seorang residen (prefek) yang langsung di bawah pemerintahan Wali Negara. Setiap residen membawahi beberapa bupati.
- Para bupati dijadikan pegawai pemerintah Belanda dan diberi pangkat sesuai dengan ketentuan kepegawaian pemerintah Belanda. Mereka mendapat penghasilan dari tanah dan tenaga sesuai dengan hukum adat.
Bidang Hukum dan Peradilan
- Dalam bidang hukum, Daendels membentuk 3 jenis pengadilan.
* Pengadilan untuk orang Eropa.
* Pengadilan untuk orang pribumi.
* Pengadilan untuk orang Timur Asing.
Pengadilan untuk pribumi ada di setiap prefektuur
dengan prefek sebagai ketua dan para bupati sebagai anggota. Hukum ini
diterapkan di wilayah kabupaten, sedangkan di wilayah prefektuur seperti
Batavia, Semarang, dan Surabaya diberlakukan hukum Eropa.
- Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, termasuk terhadap bangsa Eropa sekalipun. Akan tetapi, Daendels sendiri malah melakukan korupsi besar-besaran dalam penjualan tanah kepada swasta.
Bidang Militer dan Pertahanan
Dalam melaksanakan tugas utamanya untuk
mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels mengambil
langkah-langkah berikut ini.
•
Membangun
jalan antara Anyer-Panarukan, baik sebagai lalu lintas pertahanan maupun
perekonomian.
•
Menambah
jumlah pasukan dalam angkatan perang dari 3000 orang menjadi 20.000 orang.
•
Membangun
pabrik senjata di Gresik dan Semarang. Hal itu dilakukan karena beliau tidak
dapat mengharapkan lagi bantuan dari Eropa akibat blokade Inggris di lautan.
•
Membangun
pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dan Surabaya.
Bidang Ekonomi dan Keuangan
- Membentuk Dewan Pengawas Keuangan Negara (Algemene Rekenkaer) dan dilakukan pemberantasan korupsi dengan keras.
- Mengeluarkan uang kertas.
- Memperbaiki gaji pegawai.
- Pajak in natura (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) yang diterapkan pada zaman VOC tetap dilanjutkan, bahkan ditingkatkan.
- Mengadakan monopoli perdagangan beras.
- Mengadakan Prianger Stelsel, yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan dan sekitarnya untuk menanam tanaman ekspoer (seperti kopi).
Bidang Sosial
- Rakyat dipaksa melakukan kerja paksa (rodi) untuk membangun jalan Anyer-Panarukan.
- Perbudakkan dibiarkan berkembang.
- Menghapus upacara penghormatan kepada residen, sunan, atau sultan.
- Membuat jaringan pos distrik dengan menggunakan kuda pos.
Akhir Kekuasaan Herman Willem Daendels
Kejatuhan Daendels antara lain disebabkan oleh
hal-hal sebagai berikut.
•
Kekejaman
dan kesewenang-wenangan Daendels menimbulkan kebencian di kalangan rakyat
pribumi maupun orang-orang Eropa.
•
Sikapnya
yang otoriter terhadap raja-raja Banten, Yogyakarta, dan Cirebon menimbulkan
pertentangan dan perlawanan.
•
Penyelewengan
dalam penjualan tanah kepada pihak swasta dan manipulasi penjualan Istana
Bogor.
•
Keburukan
dalam sistem administrasi pemerintahan.
Louis Napoleon sebagai Raja Belanda akhirnya
menarik kembali Daendels dengan pertimbangan Daendels telah berbuat secara
optimal di Indonesia. Penarikan Daendels ke Belanda disertai dengan
pengangkatannya sebagai seorang panglima perang yang kemudian dikirim ke medan
peperangan di Russia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar