Data Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia tahun 2003-2013
A. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003
Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja
yang membaik dan lebih stabil selama 2003 sebagaimana yang tercermin pada
pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yang
terjadi masih belum memadai untuk menyerap tambahan angkatan kerja sehingga
jumlah pengangguran masih mengalami kenaikan. Aktivitas perdagangan dunia yang
masih lesu mengakibatkan pertumbuhan volume ekspor Indonesia, khususnya
komoditas nonmigas, relatif rendah. Dalam situasi demikian, kinerja ekspor
secara nominal sangat terbantu oleh meningkatnya harga komoditas migas dan
nonmigas di pasar internasional sehingga secara keseluruhan nilai ekspor pada
2003 masih mengalami kenaikan yang signifikan dan menjadi penopang utama
terjadinya surplus transaksi berjalan selama 2003. (Laporan Bank Indonesia,
2003 : 4-5)
Namun, dengan perkembangan perekonomian yang
dicapai saat ini, Indonesia masih harus menghadapi permasalahan yang mungkin
juga dialami negara lain, khususnya negara sedang berkembang, yang sedang
melaksanakan pembangunan. Pembangunan tersebut tentunya memerlukan dana dalam
jumlah yang besar.
Menurut Harrod Domar, dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok modal.
Semakin banyak tabungan yang kemudian diinvestasikan, maka semakin cepat
terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi secara riil, tingkat pertumbuhan
ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan investasi tergantung dari tingkat
produktivitas investasi tersebut. (M. P. Todaro, 1993, : 65 – 66).
Pembentukan modal merupakan investasi dalam
bentuk barang-barang modal yang dapat menaikkan stok modal, output nasional,
dan pendapatan nasional. Jadi, pembentukan modal merupakan kunci utama menuju
pembangunan ekonomi.
B. Pertumbuhan ekonomi tahun 2004
Data BPS menunjukan, pertumbuhan investasi tahun
2004 sebesar 14,6 persen.Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004 sebesar 4,8
persen akan terlewati, bahkan diperkirakan akan mencapai 5 sampai 5,1 persen.
Jika sektor migas dikeluarkan, laju pertumbuhan produk domesstik bruto (PDB)
non migas telah mendekati 6 persen.
Tingkat kemiskinan pada tahun 2004 yang dari 16,6
persen diperkirakan akan menurun menjadi 8,2 pada tahun 2009. Laju pertumbuhan
ekonomi dapat tercapai jika rasio investasi terhadap PDB dapat meningkat dari
20,5 persen pada tahun 2004 menjadi 28,4 persen pada tahun 2009.
C.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2005
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005
diperkirakan akan lebih baik dari tahun ini, yaitu mencapai 5,4 persen. Sasaran
pertumbuhan ekonomi Tahun 2004, yang diperkirakan mencapai 4,8 persen dapat
tercapai. Demikian disampaikan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam Pidato
Kenegaraan dalam Rapat Paripurna DPR-RI, di Gedung DPR/MPR Jakarta, hari ini.
Menurut Presiden, pertumbuhan tersebut masih tetap akan didukung oleh
peningkatan konsumsi di dalam negeri, di samping peningkatan ekspor dan
membaiknya gairah investasi. Sasaran pertumbuhan tersebut masih tetap di bawah
potensi perekonomian Indonesia dan masih belum cukup untuk mengurangi
pengangguran dan kemiskinan. Sekalipun demikian, pertumbuhan ekonomi tersebut
diharapkan akan terus meningkat setelah tahun 2005 sejalan dengan diatasinya
berbagai hambatan yang ada, demikian menurut Megawati.
Pada tahun 2005 investasi turun menjadi 10,8
persen. Produk Domestik Bruto (PDB) Pada tahun 2005, sebesar Rp 12,7 juta atau
US$ 1.320. Sedangkan produk nasional bruto per kapita pada tahun 2005 adalah Rp
12,1 juta
D.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2006
Badan Pusat Statistik menyatakan pertumbuhan
ekonomi Indonesia tahun 2006 turun menjadi 5,5 persen dibading tahun sebelumnya
5,6 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman
Heriawan, lambatnya laju perekonomian tahun lalu dipengaruhi oleh bencana alam
yang terjadi di Indonesia. Antara lain gempa bumi di Yogyakarta serta Jawa
Tengah, tsunami di Aceh dan lain-lain. "Bencana telah mengambil sumber
daya yang menunjang pertumbuhan ekonomi," kata Rusman. Dia yakin, bila
tidak terjadi bencana maka ekonomi bisa tumbuh diatas 5,5 persen.
Pada
tahun 2006 investasi sebesar 2,91 persen. "Kami harapkan tahun ini,
investasi bangkit karena telah berada di titik kulminasi terbawah,"
katanya.BPS juga menyatakan, tahun lalu semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan
positif. Pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar
13,6 persen. Untuk komunikasi, bidang telekomunikasi mencatat pertumbuhan
sebesar 24 persen. Sedangkan di sektor pengangkutan, pertumbuhan di bidang
angkutan udara sebesar 10,2 persen. Sektor penggalian dan pertambangan mencatat
pertumbuhan terendah yaitu 2,2 persen.
Sumber utama pertumbuhan ekonomi adalah ekspor
sebesar 4,1 persen dan konsumsi rumah tangga 1,9 persen. Selain itu konsumsi
pemerintah sebesar 0,7 persen, pembentukan modal tetap bruto (investasi) 0,7
persen dan impor 2,8 persen.
Produk domestik bruto (PDB) 2006 per kapita atas
dasar harga berlaku lebih tinggi dibanding tahun lalu, yaitu Rp 15 juta atau
US$ 1.663. Pada 2005, sebesar Rp 12,7 juta atau US$ 1.320. Sedangkan produk
nasional bruto per kapita adalah 14,4 juta. Angka itu lebih tinggi dibandingkan
2005 yang mencapai Rp 12,1 juta
E.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2007
Pada Januari 2007 ditandai dengan pembubaran CGI
(Consulative Group on Indonesia) sebagai trik pemerintah bahwa Indonesia makin
bebas mengatur ekonominya. Namun pertambahan utang tetap terjadi dalam jumlah
besar, tahun 2007 tercatat Rp134,4 triliun , yakni Rp91.4 triliun dari dalam
negeri dan Rp43,0 triliun dari luar negeri.
Utang luar negeri kian terbatas, dan pemerintah
meminjam ke dalam negeri dengan cara mengeluarkan surat berharga negara (SBN).
Secara bersamaan untuk membayar bunga dan cicilan utang pokok diperkirakan
Rp141,3 triliun. Artinya sekarang sudah bukan "gali lubang tutup lubang lagi",
tetapi yang dibayar lebih banyak ketimbang yang diterima.
Sementara total belanja modal hanya Rp101,5
triliun. Itulah sebabnya, hasil kerja delapan jam sehari sekitar 100 juta orang
dari 220 juta jiwa bangsa ini tidak cukup untuk merawat infrastruktur yang lama
dan pembangunan baru tidak signifikan.
Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sekitar 6,3
persen tahun 2007 mungkin dapat dicapai. Tetapi pengangguran masih tetap tinggi
yakni skeitar 9,0 persen. Demikian juga dengan tingkat kemiskinan, diperhitungkan
akan turun sedikit yakni menjadi skeitar 15,0 persen.
Di sini belum disinggung mengenai kualitas
penurunan pengangguran dan kemiskinan. Tingkat kemiskinan jelas masih dengan
ukuran rendah yakni Rp5.600 per hari. Belum ukuran Bank Dunia sekitar Rp9.500
sd Rp19.000 per hari.
F.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2008
Indikator
yang diperkirakan akan terus membaik tahun 2008 ialah seperti
pertumbuhan ekonomi bisa sekitar 6,0-7,0 persen, tingkat inflasi terkendali
pada level 5,5-6,5 persen, BI-Rate atau patokan suku bunga Bank Indonesia pada
akhir tahun 6,5-7,0 persen, dan kurs bergerak sekitar Rp9.200-Rp9.500. Indeks
harga saham akan terus naik seperti tahun 2007 dari 3.000-an menjadi
3.500-4.000.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2008
meningkat sebesar 6,1 persen terhadap tahun 2007, terjadi pada semua sektor
ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi
16,7 persen dan terendah di sektor pertambangan dan penggalian 0,5 persen.
Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2008 mencapai 6,5 persen.
Besaran PDB Indonesia pada tahun 2008 atas dasar
harga berlaku mencapai Rp4.954,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan
(tahun 2000) mencapai Rp2.082,1 triliun.
Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV-2008
dibandingkan dengan triwulan III-2008 (q-to-q) menurun sebesar minus 3,6
persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2007 (y-on-y) tumbuh sebesar
5,2 persen.
Dari sisi penggunaan, PDB digunakan untuk memenuhi
konsumsi rumah tangga sebesar 61,0 persen, konsumsi pemerintah 8,4 persen,
pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 27,7 persen, ekspor 29,8
persen dan impor 28,6 persen.
Semua komponen PDB penggunaan mengalami
pertumbuhan pada tahun 2008, dengan pertumbuhan tertinggi pada pembentukan
modal tetap bruto sebesar 11,7 persen, diikuti oleh pengeluaran konsumsi
pemerintah 10,4 persen, impor 10,0 persen, ekspor 9,5 persen, serta pengeluaran
konsumsi rumah tangga sebesar 5,3 persen.
Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 6,1
persen didukung oleh sumber utama pertumbuhan komponen ekspor 4,6 persen,
diikuti konsumsi rumahtangga 3,1 persen, pembentukan modal tetap bruto 2,6
persen, dan konsumsi pemerintah 0,8 persen.
PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun
2008 mencapai Rp21,7 juta (US$2.271,2), sementara tahun 2007 sebesar Rp17,5
juta (US$1.942,1).
Struktur perekonomian Indonesia secara spasial
masih didominasi oleh Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB
nasional sebesar 57,9 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 23,4
persen, Pulau Kalimantan 10,0 persen, Pulau Sulawesi 4,5 persen dan lainnya
sebesar 4,2 persen.
G.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2009
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 yaitu sebesar
4,55 persen. Inflasi yang terjadi yaitu sebanyak 7,82 persen. PDB harga 2002
konstan (triliun) yaitu sebanyak 2.176,98. Jumlah
penduduk termiskin dalam juta yaitu sebanyak 32,53. Ekspor dan impor pada tahun
2010 dalam juta yaitu sebanyak 116.510 dan 96.829,2. Investasi yang terjadi
yaitu pada PMDN sebesar 37.799,8 (miliyar).
H.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2010
Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 mencapai 6,1
persen. Dengan kisaran 6,1 persen maka akan mencapai nominal PDB mencapai
Rp.6.422,9 triliun, PDB harga kosntan yaitu sebanyak 1498,7 (triliun). Neraca
perdagangan luar negri yaitu ekspor yaitu sebesar 157,779 dan impor sebesar
135,663 (miliyar). Pada tahun ini jumlah pengangguran yang ada di Indonesia yaitu
sebanyak30 persen.
I.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2011
Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia tumbuh 6,5% pada empat bulan terakhir tahun 2011, meski
sebelumnya sempat muncul pesimisme karena anjloknya angka ekspor Desember
lalu.Dengan demikian, target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah antara
6,3-6,5%, terpenuhi sepanjang tahun lalu.
Angka yang dilansir BPS ini memupus keraguan akan
memburuknya pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena pada Desember lalu angka
ekspor justru melemah hanya mencapai 2,19% dibanding angka yang sama tahun
sebelumnya dan merupakan yang terendah sejak September 2009.
Pada bulan Oktober dan November 2011, ekspor juga
melemah menjadi 16,7 dan 8,25 %, padahal angka ekspor rata-rata sejak
Juli-September mencapai 40,5%.Meski demikian, melemahnya ekspor ditutup oleh
melonjaknya konsumsi dalam negeri sementara minat investasi juga tetap tinggi
pada kuartal keempat 2011, ditandai dengan naiknya angka investasi asing (FDI)
yang mencapai 25%.
Suhu ekonomi dunia yang sedang terganggu akibat
krisis berkepajangan di AS dan Eropa, diperkirakan akan turut berimbas ke
Indonesia sehingga lembaga seperti Bank Indonesia menurunkan target pertumbuhan
2012 menjadi 6,3-6,5%, lebih rendah dari target pemerintah yang mencapai 6,7%.
J.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2012
Dana Moneter Internasional (International Monetary
Fund) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2012 hanya
sebesar 3,3%, terendah sejak krisis global pada tahun 2009. Angka tersebut
diprediksi IMF akan menjadi 3,6% di tahun 2013, namun masih rendah dari
pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2011 yang mencapai 3,8%.
Hal ini membuat Indonesia rentan jika terjadi
perlambatan pada negara lain. Kondisi ini tercermin dari sulitnya mencapai
pertumbuhan ekonomi yang telah ditargetkan pemerintah, dimana pada kuartal III
tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 6,17% secara year on
year (yoy). Angka ini menurun dibanding kuartal II 2012 yang mampu mencapai
6,37%. Penurunan pertumbuhan ekonomi di kuartal III ini merupakan dampak dari
krisis Eropa yang semakin dalam. Perlambatan perekonomian Indonesia sepertinya
masih akan berlangsung sebagaimana diumumkan IMF bahwa PDB Indonesia diproyeksi
hanya tumbuh sebesar 6% untuk 2012 dan 6,3% di tahun 2013.
Kemampuan mempertahankan capaian pertumbuhan ekonomi
positif (meskipun masih relatif rendah), selama krisis global, terutama karena
permintaan agregat dalam negeri, khususnya permintaan Pembentukan Modal Tetap
Domestik Bruto (PMTB) dan Konsumsi Rumah Tangga. Seperti yang terlihat pada
Gambar 1, pertumbuhan PDB pada kuartal III tahun 2012 dari sisi pengeluaran
ditopang oleh tingginya pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto
(PMTB) sebesar 10,02% (yoy) dan Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,68% (yoy).
Sementara itu, Konsumsi Pemerintah, Ekspor dan Impor mengalami kontraksi
dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Apabila dibandingkan kuartal
III tahun 2011, pertumbuhan konsumsi pemerintah tercatat minus 3,22% (yoy)
karena masih rendahnya penyerapan anggaran belanja. Penyerapan belanja negara hingga
14 November 2012 baru mencapai IDR 1.112,1 trilyun atau 71,8% dari pagu APBN-P
2012 sebesar IDR 1.548,3 trilyun. Ekspor barang dan jasa pada kuartal III tahun
2012 mengalami kontraksi sebesar minus 2,78 % (yoy). Impor juga tercatat lesu
dengan tingkat pertumbuhan minus 0,54% (yoy).
Tingkat pengangguran Indonesia pada bulan Agustus
2012 menurun dibandingkan dengan tingkat pengangguran Indonesia pada bulan
Februari 2012. Pada bulan Agustus 2012 tingkat pengangguran Indonesia sebesar
7,24 juta atau 6,14%, sedangkan pada bulan Februari 2012 sebesar 7,61 juta atau
6,32%. Tingkat pengangguran Indonesia pada bulan Agustus 2012 juga lebih rendah
jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran pada bulan yang sama tahun
sebelumnya tercatat mencapai 6,56%. Turunnya tingkat pengangguran Indonesia,
nampaknya juga didukung oleh persentase jumlah angkatan kerja Indonesia yang
menurun pada bulan Agustus 2012. Pada bulan Agustus 2012 persentase angkatan
kerja Indonesia adalah 67,88% menurun dari Februari 2012 yaitu 69,66%.
K.
Pertumbuhan
ekonomi tahun 2013
Pada
tahun 2013 pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 5,78 persen. Pada tahun 2013 ini
jumlah pengangguran yang ada adalah sebanyak 121,2 juta. Kemiskinan dengan
akan28,07 juta orang. Neraca perdagangan pada tahun 2013 yaitu pada ekspor dan
impor adalah sebesar 182,57 dan 186,63 (miliyar dollar). Inflasi yang terjadi
pada tahun 2013 yaitu sebanyak 8.38 persen. Dan pada pertumbuhan ekonomi pada
tahun ini yaitu sebesar 398,6 (triliun Rupiah).
“Artinya, kualitas pertumbuhan
rendah alias tidak inklusif. Ini terlihat dari gini rasio yang meningkat ke
level ketimpangan menengah. Tahun 2004, gini rasio 0,32. Tahun 2013, gini rasio
meningkat menjadi 0,413. Ini level terburuk dalam sejarah. Dengan kata lain,
pembangunan terjadi, tetapi proses dan hasilnya tidak dinikmati secara merata,”
demikian tegas Ketua Umum PP ISNU ini.
Menurut Ali Masykur, salah kiblat
pembangunan yang menghasilkan ketimpangan ini juga bisa diukur dari kesenjangan
distribusi kesejahteraan antarwilayah dan ketimpangan pembangunan antarsektor
ekonomi. Tahun 2013, Jawa dan Sumatera menyumbang 81 persen terhadap PDB
nasional. “Artinya, kue terbesar dihasilkan dan dinikmati dua pulau ini.”
Pembangunan juga ditopang oleh
sektor nontradable seperti jasa dan keuangan yang tumbuh pesat mengalahkan
sektor penghasil barang penyerap tenaga kerja seperti pertanian. Sektor
pertanian, yang menyerap sekitar 38 juta tenaga kerja, hanya tumbuh 3,54 persen
dan menyumbang 0,45 persen terhadap PDB 2013.
Sementara sektor nontradable
seperti pengangkutan dan komunikasi tumbuh tinggi mencapai 10,19 persen, sektor
keuangan, real estat, dan jasa perusahaan tumbuh 7,56%, dan sektor konstruksi
tumbuh 6,57 persen. Solusinya, menurut Capres yang mengusung slogan Indonesia
AMM (Adil, Makmur, ber-Martabat) ini adalah dengan menggalakkan industrialisasi
pertanian.
Sebab, pertanian adalah penampung
lapangan kerja terbesar sekaligus sarang kemiskinan. Jika pertanian dibereskan,
kemiskinan akan terkikis. Desa pertanian
menjadi sarang kemiskinan akibat penyusutan lahan, hancurnya infrastruktur
pertanian, dan minimnya hubungan pertanian kesejahteraan.
“Tidak heran kalau anak muda,
termasuk sarjana pertanian, tidak mau terjun ke sawah karena minimnya
kesejahteraan.” Sensus Pertanian BPS pada 2013 menunjukkan, dalam 10 tahun
(2003-2013), jumlah rumah tangga tani berkurang 5 juta, dari 31 juta pada 2003
menjadi 26 juta pada 2013.
Kesimpulan
Kesimpulan pertumbuhan
ekonomi yang berlangsung dari tahun 2003 sampai 2013 adalah dari tahun 2003-2004
menurun yaitu dari 6,25 persen menjadi 5,1 persen. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004-2005 naik
yaitu pada tahun 2005 menjadi 5,6 persen. Pada tahun 2005-2006 menurun yaitu
menjadi 5,5 pada tahun 2006. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun
2006-2007 yaitu mengalami kenaikan yang dari 5,5 persen menjadi 6,3 persen.
Pada tahu 2007-2008 mengalami penurunan menjadi 6,2 persen pada tahun 2008.
Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun 2008-2009 mengalami penurunan yang
semula 6,2 persen menjadi 5,0 persen. Pada tahun 2009-2010 mengalami kenaikan
yaitu 6,1 persen pada tahun 2010. Pada tahun 2010-2011 pertumbuhan ekonomi
mengalami kenaikan dari 6,1 menjadi 6,5 persen. Pada tahun 2011-2012 yaitu
mengalami kenaikan yaitu dari 6,5 menjadi 6,17 persen. Yang terakhir yaitu
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012-2013 yaitu mengalami penurunan menjadi 5,78
persen pada tahun 2013.Pada intinya pertumbuhan ekonomi indonesia pada tahun
2003-2013 mengalami naik turun atau labil.
ada tabel nya sist?
BalasHapus