Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap
Penjajah Portugis
1. Perlawanan
Rakyat Ternate
Portugis ingin memaksakan monopoli
perdagangan kepada rakyat Ternate. Tentu saja hal itu ditentang oleh rakyat
Ternate. Perlawanan terhadap kekuasaan Portugis di Ternate berkobar pada tahun
1533. Untuk menghadapi Portugis, sultan Ternate (Sultan
Baabullah) menyerukan agar rakyat
dari Irian sampai ke Pulau Jawa bersatu melawan Potugis. Maka berkobarlah
perlawanan umum di Maluku terhadap Portugis. Rakyat Maluku bangkit melawan
Portugis. Kerajaan Ternate dan Tidore bersatu. Akibatnya Portugis terdesak.
Karena merasa posisinya terdesak, Portugis mendatangkan pasukan bantuan dari
Malaka, di bawah pimpinan Antonio Galvao. Pasukan bantuan
tersebut menyerbu beberapa wilayah Kerajaan Ternate. Rakyat Maluku di bawah
pimpinan Kerajaan Ternate berjuang penuh semangat, mempertahankan kemerdekaannya.
Tetapi waktu itu Ternate belum berhasil mengusir Portugis. Untuk sementara
Portugis dapat menguasai Maluku.
Pada
tahun 1565, rakyat Ternate bangkit kembali melawan Portugis, di bawah pimpinan
Sultan Hairun. Portugis hampir terdesak, tetapi kemudian melakukan tindakan
licik. Sultan Hairun diajak berunding. Untuk itu Sultan Hairun diundang agar
datang ke benteng Portugis. Dengan jiwa kesatria dan tanpa perasaan curiga,
Sultan Hairun memenuhi undangan Portugis. Tetapi apa yang terjadi? Setiba di
benteng Portugis, Sultan Hairun dibunuh. Peristiwa itu membangkitkan kemarahan
rakyat Maluku. Perlawanan umum berkobar lagi di bawah pimpinan Sultan
Baabullah, pengganti Sultan Hairun. Pada tahun 1574, benteng Portugis dapat
direbut oleh rakyat Ternate. Dengan demikian, rakyat Ternate berhasil
mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan Portugis.
2.
Perlawanan Rakyat Demak
Demak sebelumnya
merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang
merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak
tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V
(Bhre Kertabumi) raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka
Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau
Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan
melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak
berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden
Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan
pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi
oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah
merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat
kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah
pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa
Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang
penting bagi kerajaan Demak.
Lokasi kerajaan Demak yang strategis
untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia
bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah
hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan
rajanya yang pertama yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah
(1500-1518).
Pada masa pemerintahannya Demak
memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di
pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka
jatuh ke tangan Portugis 1511. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman
bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513
Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh
Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Serangan Demak terhadap Portugis
walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya
Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518-1521), Demak
melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan
makanan. Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono
(1521-1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan
yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.
Daerah kekuasaan tersebut berhasil
dikembangkan antara lain karena Sultan Trenggono melakukan penyerangan terhadap
daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu yang mengadakan hubungan dengan Portugis
seperti Sunda Kelapa (Pajajaran) dan Blambangan. Penyerangan terhadap Sunda
Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan karena adanya perjanjian antara
raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan Portugis yang diperkuat dengan pembuatan
tugu peringatan yang disebut Padrao. Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis
diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan
mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran.
Sebelum Benteng tersebut dibangun
oleh Portugis, tahun 1526 Demak mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa,
di bawah pimpinan Fatahillah. Dengan penyerangan tersebut maka tentara Portugis
dapat dipukul mundur ke Teluk Jakarta.
Gb.
Masjid Demak yang diambil pada th. 1810
Kemenangan
gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa tepat tanggal 22 Juni 1527 diperingati
dengan pergantian nama menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan Abadi.
Sedangkan penyerangan terhadap Blambangan (Hindu) dilakukan pada tahun 1546, di
mana pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono yang dibantu oleh
Fatahillah, tetapi sebelum Blambangan berhasil direbut Sultan Trenggono
meninggal di Pasuruan. Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, maka terjadilah
perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Trenggono) dengan
Sunan Prawoto (putra Trenggono) dan Arya Penangsang (putra Sekar Sedolepen). Perang
saudara tersebut diakhiri oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang dibantu
oleh Ki Ageng Pemanahan, sehingga pada tahun 1568 Pangeran Hadiwijaya
memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang. Dengan demikian berakhirlah
kekuasaan Demak dan hal ini juga berarti bergesernya pusat pemerintahan dari
pesisir ke pedalaman.
Seperti
yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat
strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai
kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung
antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil
rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin
berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap
pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.
Sebagai
kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga
memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil
pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya
ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di
bidang ekonomi.
3.
Perlawanan
Rakyat Aceh
Sejak Portugis
menduduki Malaka pada tahun 1511, Kerajaan Aceh merupakan saingannya yang
terberat dalam perdagangannya. Sebab banyak pedagang Asia yang memindahkan
kegiatan dagangnya ke Aceh. Pelabuhan Aceh bertambah ramai. Kecuali itu, Aceh
merupakan ancaman bagi kedudukan Portugis di Malaka. Setiap waktu Aceh dapat
menyerbu Malaka.
Persaingan dagang antara Portugis
dan Kerajaan Islam Aceh makin lama makin meruncing. Kemudian meningkat menjadi
permusuhan. Bila armada Portugis berjumpa dengan patroli-patroli angkatan laut
Aceh, terjadilah pertempuran di laut.
Pertempuran semacam itu tidak hanya
terjadi di Selat Malaka, tetapi juga di lautan internasional, antara lain Laut
Merah.
Untuk menghadapi Portugis, Sultan
Aceh mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Kapal-kapal dagangnya yang berlayar
disertai prajurit dengan perlengkapan meriam.
2.
Meminta bantuan meriam serta tenaga
ahlinya dari Turki. Bantuan dari Turki itu diperoleh pada tahun 1567.
3.
Meminta bantuan dari Jepara (Demak) dan
Calicut (India).
Sementara itu, Portugis mempunyai
rencana terhadap Aceh sebagai berikut :
·
Menghancurkan Aceh dengan jalan
mengepungnya selama 3 tahun.
·
Setiap kapal yang berlayar di selat
Malaka akan disergap dan dihancurkan.
Namun ternyata rencana Portugis
tersebut tidak dapat terlaksana. Sebab Portugis tidak memilik armada yang cukup
untuk mengawasi Selat Malaka. Ternyata bukan Portugis yang berhasil
menghancurkan kapal-kapal Aceh, tetapi sebaliknya kapal-kapal Acehlah yang
sering mengganggu kapal-kapal Portugis di selat Malaka.
Bahkan
seringkali armada Aceh menyerang langsung ke markas Portugis di Malaka. Hal itu
terjadi antara lain pada tahun 1629, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar
Muda. Namun demikian serangan-serangan Aceh itu belum berhasil. Permusuhan
antara Aceh dengan Portugis berlangsung terus menerus. Kedua pihak saling
berusaha untuk menghancurkan, tetapi sama-sama tidak berhasil. Sampai akhirnya
Malaka jatuh ke tangan VOC (Belanda) pada tahun 1641.
Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap
Penjajah VOC
1.
Perlawanan
Rakyat Maluku
Portugis berhasil memasuki Kepulauan
Maluku pada tahun 1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama
berselang orangorang Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan
kedudukannya di Tidore. Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak. Persaingan
itu semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan Ternate
dan Spanyol bersahabat dengan Tidore. Pada tahun 1529 terjadi perang antara
Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini karena kapal-kapal Portugis
menembaki jung-jung dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore. Tentu saja
Tidore tidak dapat menerima tindakan armada Portugis. Rakyat Tidore angkat
senjata. Terjadilah perang antara Tidore melawan Portugis. Dalam perang ini
Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat
kemenangan.
Dengan kemenangan ini Portugis menjadi semakin sombong dan sering berlaku kasar terhadap penduduk Maluku. Upaya monopoli terus dilakukan. Maka, wajar jika sering terjadi letupan-letupan perlawanan rakyat. Sementara itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol dilaksanakan perjanjian damai, yakni Perjanjian Saragosa pada tahun 1534. Dengan adanya Perjanjian Saragosa kedudukan Portugis di Maluku semakin kuat. Portugis semakin berkuasa untuk memaksakan kehendaknya melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Kedudukan Portugis juga semakin mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Pada tahun 1565 muncul perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Khaerun/Hairun. Sultan Khaerun menyerukan seluruh rakyat dari Irian/Papua sampai Jawa untuk angkat senjata melawan kezaliman kolonial Portugis. Portugis mulai kewalahan dan menawarkan perundingan kepada Sultan Khaerun. Dengan pertimbangan kemanusiaan, Sultan Khaerun menerima ajakan Portugis Perundingan dilaksanakan pada tahun 1570 bertempat di Benteng Sao Paolo. Ternyata semua ini hanyalah tipu muslihat Portugis. Pada saat perundingan sedang berlangsung, Sultan Khaerun ditangkap dan dibunuh. Apa yang dilakukan Portugis kala itu sungguh kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Demi keuntungan ekonomi Portugis telah merusak sendi-sendi kehidupan kemanusiaan dan keberagamaan.
Setelah Sultan Khaerun dibunuh,
perlawanan dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan
Khaerun). Melihat tindakan Portugis yang tidak mengenal nilai-nilai
kemanusiaan, semangat rakyat Maluku untuk melawannya semakin berkobar. Seluruh
rakyat Maluku berhasil dipersatukan termasuk Ternate dan Tidore untuk
melancarkan serangan besar-besaran terhadap Portugis. Akhirnya Portugis dapat
didesak dan pada tahun 1575 berhasil diusir dari Ternate. Orang-orang Portugis
kemudian melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun 1605. Tahun itu
Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon dan kemudian menetap di Timor Timur.
Serangkaian rakyat terus terjadi
terhadap Portugis maupun VOC yang melakukan tindakan kejam dan sewenang-wenang
kepada rakyat. Misalnya pada periode tahun 1635-1646 terjadi serangan sporadis
dari rakyat Hitu yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi. Perlawanan rakyat
ini juga meluas ke Ambon. Tahun 1650 perlawanan rakyat juga terjadi di Ternate
yang dipimpin oleh Kecili Said. Sementara perlawanan secara gerilya terjadi
seperti di Jailolo. Namun berbagai serangan itu selalu dapat dipatahkan oleh
kekuatan VOC yang memiliki peralatan senjata lebih lengkap. Rakyat terus
mengalami penderitaan akibat kebijakan monopoli rempah-rempah yang disertai
dengan Pelayaran Hongi.
Pada tahun 1680, VOC memaksakan
sebuah perjanjian baru dengan penguasa Tidore. Kerajaan Tidore yang semula
sebagai sekutu turun statusnya menjadi vassal VOC, dan sebagai penguasa yang
baru diangkatlah Putra Alam sebagai Sultan Tidore (menurut tradisi kerajaan
Tidore yang berhak sebagai sultan semestinya adalah Pangeran Nuku). Penempatan
Tidore sebagai vassal atau daerah kekuasaan VOC telah menimbulkan protes keras
dari Pangeran Nuku. Akhirnya Nuku memimpin perlawanan rakyat. Timbullah perang
hebat antara rakyat Maluku di bawah pimpinan Pangeran Nuku melawan kekuatan
kompeni Belanda (tentara VOC). Sultan Nuku mendapat dukungan rakyat Papua di
bawah pimpinan Raja Ampat dan juga orang-orang Gamrange dari Halmahera. Oleh
para pengikutnya, Pangeran Nuku diangkat sebagai sultan dengan gelar Tuan
Sultan Amir Muhammad Syafiudin Syah. Sultan Nuku juga berhasil meyakinkan
Sultan Aharal dan Pangeran Ibrahim dari Ternate untuk bersama-sama melawan VOC.
Bahkan dalam perlawanan ini Inggris juga member dukungan terhadap Sultan Nuku.
Belanda kewalahan dan tidak mampu membendung ambisi Nuku untuk lepas dari
dominasi Belanda. Sultan Nuku berhasil mengembangkan pemerintahan yang
berdaulat melepaskan diri dari dominasi Belanda di Tidore sampai akhir hayatnya
(tahun 1805).
2.
Perlawanan
Rakyat Mataram
Sultan Agung (1613-1645)
adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita mempersatukan seluruh Jawa di
bawah Mataram dan mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa. Untuk merealisir
cita-citanya, ia bermaksud membendung usaha-usaha Kompeni menjalankan penetrasi
politik dan monopoli perdagangan.
Pada tanggal 18 Agustus 1618,
kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi
pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan
balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu,
sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan
untuk mengusir Kompeni dari Batavia
Serangan besar-besaran
terhadap Batavia, dilancarkan dua kali. Serangan pertama, pada bulan Agustus
1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso
dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul,
Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga
bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul
mundur.
Serangan kedua dilancarkan
pada bulan September 1629 di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung
Singaranu. Akan tetapi serangan yang kedua ini pun juga mengalami kegagalan.
Kegagalan serangan-serangan tersebut disebabkan:
- Kalah persenjataan.
- Kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni.
- Jarak Mataram - Batavia terlalu jauh.
- Datanglah musim penghujan, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung gagal.
- Terjangkitnya wabah penyakit yang menyerang prajurit Mataram.
3.
Perlawanan
Rakyat Makassar
Pada abad ke-17 di Sulawesi
Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tello, Sopeng, dan
Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat
ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar.
Adapun faktor-faktor yang
mendorong perkembangan Makasar, antara lain
- Letak Makasar yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku.
- Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511.
- Timbulnya Banjarmasin sebagai daerah penghasil lada, yang hasilnya dikirim ke Makasar.
Usaha penetrasi kekuasaan
terhadap Makasar oleh VOC dalam rangka melaksanakan monopolinya menyebabkan
hubungan Makasar - VOC yang semula baik menjadi retak bahkan akhirnya menjadi
perlawanan. Hal ini dikarenakan Makasar selalu menerobos monopoli VOC dan
selalu membantu rakyat Maluku melawan Kompeni. Pertempuran besar meletus pada
tahun 1666, ketika Makasar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1670).
Dalam hal ini VOC berkoalisi dengan Kapten Jonker dari Ambon, Aru Palaka dari
Bone, dan di pihak VOC sendiri dipimpin oleh Speelman. Makasar dikepung dari
darat dan laut, yang akhirnya pertahanan Makasar berhasil dipatahkan oleh VOC.
Para pemimpin yang tidak mau menyerah, seperti Karaeng
Galesung dan Karaeng Bontomarannu melarikan diri ke Jawa (membantu perlawanan
Trunojoyo).
Sultan Hasanuddin dipaksa
menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667,
yang isinya :
- Wilayah Makasar terbatas pada Goa, wilayah Bone dikembalikan kepada Aru Palaka.
- Kapal Makasar dilarang berlayar tanpa izin VOC.
- Makasar tertutup untuk semua bangsa, kecuali VOC dengan hak monopolinya.
- Semua benteng harus dihancurkan, kecuali satu benteng Ujung Pandang yang kemudian diganti dengan nama Benteng Roterrdam.
- Makasar harus mengganti kerugian perang sebesar 250.000 ringgit.
Sultan Hasanuddin walaupun
telah menandatangani perjanjian tersebut, karena dirasa sangat berat dan sangat
menindas; maka perlawanan muncul kembali (1667-1669). Makasar berhasil
dihancurkan dan dinyatakan menjadi milik VOC.
4.
Perlawanan Rakyat Banten
Banten memiliki posisi yang
strategis sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu sejak semula
Belanda ingin menguasai Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya VOC
membangun Bandar di Batavia pada tahun 1619. Terjadi persaingan antara Banten
dan Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh
karena itu, rakyat Banten sering melakukan seranganserangan terhadap VOC.
Sultan Ageng Tirtayas
Tahun 1651, Pangeran Surya
naik tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir Mahmud
Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al- Ma’ali Ahmad yang wafat pada 1650.
Pangeran Surya bergelar Sultan Abu al-Fath Abulfatah. Sultan Abu al-Fath
Abdulfatah ini lebih dikenal dengan
nama Sultan Ageng Tirtayasa.
nama Sultan Ageng Tirtayasa.
Ia berusaha memulihkan
posisi Banten sebagai Bandar perdagangan internasional dan sekaligus menandingi
perkembangan di Batavia. Beberapa hal yang dilakukan misalnya :
- Mengundang para pedagang Eropa lain seperti Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis.
- Sultan Ageng juga mengembangkan hubungan dagang dengan negara-negara Asia seperti Persia, Benggala, Siam, Tonkin, dan Cina.
Perkembangan di Banten
ternyata sangat tidak disenangi oleh VOC. Oleh karena itu, untuk melemahkan
peran Banten sebagai Bandar perdagangan, VOC sering melakukan blokade.
Jung-jung Cina dan kapal-kapal dagang dari Maluku dilarang meneruskan perjalanan
menuju Banten.
Sebagai balasan Sultan
Ageng juga mengirim beberapa pasukannya untuk mengganggu kapal-kapal dagang VOC
dan menimbulkan gangguan di Batavia. Dalam rangka memberi tekanan dan
memperlemah kedudukan VOC, rakyat Banten juga melakukan perusakan terhadap
beberapa kebun tanaman tebu milik VOC. Akibatnya hubungan antara Banten dan
Batavia semakin memburuk.
Menghadapi serangan
pasukan Banten, VOC terus memperkuat kota Batavia dengan mendirikan
benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Noordwijk. Dengan tersedianya
beberapa benteng di Batavia diharapkan VOC mampu bertahan dari berbagai
serangan dari luar dan mengusir para penyerang tersebut.
Sementara itu untuk
kepentingan pertahanan, Sultan Ageng memerintahkan untuk membangun saluran
irigasi yang membentang dari Sungai Untung Jawa sampai Pontang. Selain
berfungsi untuk meningkatkan produksi pertanian, saluran irigasi dimaksudkan
juga untuk memudahkan transportasi perang. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng
ini memang banyak dibangun saluran air/irigasi. Oleh karena jasa-jasanya ini
maka sultan digelari Sultan Ageng Tirtayasa (tirta artinya air).
Serangan dan gangguan
terhadap VOC terus dilakukan. Di tengah-tengah mengobarkan semangat anti VOC
itu, pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota Abdulnazar
Abdulkahar sebagai raja pembantu yang lebih dikenal dengan nama Sultan
Haji.
Sebagai raja pembantu
Sultan Haji bertanggung jawab urusan dalam negeri, dan Sultan Ageng Tirtayasa
bertanggung jawab urusan luar negeri dibantu puteranya yang lain, yakni
Pangeran Arya Purbaya.
Pemisahan urusan
pemerintahan di Banten ini tercium oleh perwakilan VOC di Banten W. Caeff. Ia
kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji agar urusan pemerintahan di Banten
tidak dipisah-pisah dan jangan sampai kekuasaan jatuh ke tangan Arya
Purbaya.
Karena hasutan VOC ini
Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya. Sultan Haji juga sangat khawatir,
apabila dirinya tidak segera dinobatkan sebagai sultan, sangat mungkin jabatan
sultan itu akan diberikan kepada Pangeran Arya Purbaya.
Tanpa berpikir panjang
Sultan Haji segera membuat persekongkolan dengan VOC untuk merebut tahta
kesultanan Banten. Timbullah pertentangan yang begitu tajam antara Sultan Haji
dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup
membantu Sultan Haji untuk merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat
syarat.
1)
Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC,
2)
monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus
menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina,
3)
Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar
janji, dan
4)
pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan
pedalaman Priangan segera ditarik kembali. Isi perjanjian ini disetujui oleh
Sultan Haji.
Pada tahun 1681 VOC atas
nama Sultan Haji berhasil merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil
dikuasai. Sultan Haji menjadi Sultan Banten yang berkedudukan di istana
Surosowan. Sultan Ageng kemudian membangun istana yang baru berpusat di
Tirtayasa. Sultan Ageng berusaha merebut kembali Kesultanan Banten dari Sultan
Haji yang didukung VOC.
Pada tahun 1682 pasukan
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan. Sultan Haji
terdesak dan segera meminta bantuan tentara VOC. Datanglah bantuan tentara VOC
di bawah pimpinan Francois Tack.
Pasukan Sultan Ageng
Tirtayasa dapat dipukul mundur dan terdesak hingga ke Benteng Tirtayasa. Sultan
Ageng Tirtayasa akhirnya meloloskan diri bersama puteranya, pangeran Purbaya ke
hutan Lebak. Mereka masih melancarkan serangan sekalipun dengan bergerilya.
Tentara VOC terus memburu. Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya yang
kemudian bergerak ke arah Bogor.
Baru
setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil
ditangkap dan ditawan di Batavia sampai meninggalnya pada tahun 1692.
KESIMPULAN
Sampai dengan abad 18 penetrasi kekuasaan belanda
semakin besar dan meluas, bukan hanya dalam bidang ekonomi dan politik saja
namun juga meluas ke bidang-bidang lainnya seperti kebudayaan dan agama.
Penetrasi dan dominasi yang semakin besar dan meluas terhadap kehidupan bangsa
Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai peristiwa perlawanan dan perang
melawan penindasan dan penjajahan bangsa Eropa. Tindakan sewenang-wenang dan
penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial Eropa telah menimbulkan
kesengsaraan dan kepedihan bangsa Indonesia. Menghadapi tindakan penindasan
itu, rakyat Indonesia memberikan perlawanan yang sangat gigih. Perlawanan
mula-mula ditujukan kepada kekuasaan Portugis dan VOC.
Di atas
telah digambarkan bagaimana daerah-daerah di Indonesia satu persatu jatuh ke
tangan Belanda. Dengan berbagai cara, rakyat Indonesia di berbagai daerah
berusaha terus untuk bertahan. Bila semua raja-raja di Indonesia memiliki
armada-armada niaga yang besar, maka setelah kerajaannya ditundukkan oleh
Belanda, maka armada-armadanya segera ditumpas oleh Belanda. Di samping itu,
peraturan Belanda yang monopolitis mengakibatkan terdesaknya ke sudut kebebasan
perdagangan rakyat Indonesia. Karena berjuang untuk kelangsungan hidupnya,
rakyat yang hidup di pantai-pantai selalu berusaha menerobos monopoli Belanda.
Tindakan seperti itu oleh Belanda disebut perdagangan gelap atau penyelundup.
Namun demikian, tindakan-tindakan rakyat Indonesia tersebut jelas merupakan
bentuk perlawanan yang tak henti-hentinya terhadap imperialisme Barat.
Indonesia memperoleh
kemerdekaan dalam waktu yang lama. Banyak para pahlawan yang gugur demi
mempertahankan bumi pertiwi tercinta. Mereka mengorbankan seluruh jiwa dan raga
untuk mengejar sebuah kata merdeka. Sebelum tahun 1908, telah banyak bangsa
lain yang ingin menjajah dan menguasai Indonesia. Mereka banyak memeras,
menindas, dan merampas hak-hak rakyat Nusantara. Banyak perlawanan dari
pahlawan-pahlawan kita yang masih bersifat kedaerahan. Muncul banyak
tokoh-tokoh yang memegang andil besar dalam perlawanan terhadap penjajahan yang
bangsa lain lakukan.
Tugas kita sebagai penerus
bangsa adalah mempertahankan kemerdekaan ini, tetap menjaga semangat perjuangan
dan mempertahankan kebudayaan nenek moyang kita. Namun di jaman globalisasi
sekarang ini, semangat generasi muda penerus bangsa kian menurun dan sangat
memprihatinkan. Melihat akan gigihnya para pejuang daerah kita terdahulu,
harusnya para pemuda merasa malu. Semestinya para pemuda generasi baru harus
bisa melanjutkan perjuangan para pendahulu yang rela berkorban tanpa jasa dan
berani memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagai generasi muda seharusnya
dapat melanjutkan tonggak harapan ini untuk mengisi kemerdekaan dengan cara
meningkatkan akhlak.
Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap
Penjajah Portugis
1. Perlawanan
Rakyat Ternate
Portugis ingin memaksakan monopoli
perdagangan kepada rakyat Ternate. Tentu saja hal itu ditentang oleh rakyat
Ternate. Perlawanan terhadap kekuasaan Portugis di Ternate berkobar pada tahun
1533. Untuk menghadapi Portugis, sultan Ternate (Sultan
Baabullah) menyerukan agar rakyat
dari Irian sampai ke Pulau Jawa bersatu melawan Potugis. Maka berkobarlah
perlawanan umum di Maluku terhadap Portugis. Rakyat Maluku bangkit melawan
Portugis. Kerajaan Ternate dan Tidore bersatu. Akibatnya Portugis terdesak.
Karena merasa posisinya terdesak, Portugis mendatangkan pasukan bantuan dari
Malaka, di bawah pimpinan Antonio Galvao. Pasukan bantuan
tersebut menyerbu beberapa wilayah Kerajaan Ternate. Rakyat Maluku di bawah
pimpinan Kerajaan Ternate berjuang penuh semangat, mempertahankan kemerdekaannya.
Tetapi waktu itu Ternate belum berhasil mengusir Portugis. Untuk sementara
Portugis dapat menguasai Maluku.
Pada
tahun 1565, rakyat Ternate bangkit kembali melawan Portugis, di bawah pimpinan
Sultan Hairun. Portugis hampir terdesak, tetapi kemudian melakukan tindakan
licik. Sultan Hairun diajak berunding. Untuk itu Sultan Hairun diundang agar
datang ke benteng Portugis. Dengan jiwa kesatria dan tanpa perasaan curiga,
Sultan Hairun memenuhi undangan Portugis. Tetapi apa yang terjadi? Setiba di
benteng Portugis, Sultan Hairun dibunuh. Peristiwa itu membangkitkan kemarahan
rakyat Maluku. Perlawanan umum berkobar lagi di bawah pimpinan Sultan
Baabullah, pengganti Sultan Hairun. Pada tahun 1574, benteng Portugis dapat
direbut oleh rakyat Ternate. Dengan demikian, rakyat Ternate berhasil
mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan Portugis.
2.
Perlawanan Rakyat Demak
Demak sebelumnya
merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang
merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak
tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V
(Bhre Kertabumi) raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka
Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau
Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan
melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak
berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden
Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan
pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi
oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah
merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat
kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah
pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa
Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang
penting bagi kerajaan Demak.
Lokasi kerajaan Demak yang strategis
untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia
bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah
hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan
rajanya yang pertama yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah
(1500-1518).
Pada masa pemerintahannya Demak
memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di
pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka
jatuh ke tangan Portugis 1511. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman
bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513
Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh
Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Serangan Demak terhadap Portugis
walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya
Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518-1521), Demak
melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan
makanan. Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono
(1521-1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan
yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.
Daerah kekuasaan tersebut berhasil
dikembangkan antara lain karena Sultan Trenggono melakukan penyerangan terhadap
daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu yang mengadakan hubungan dengan Portugis
seperti Sunda Kelapa (Pajajaran) dan Blambangan. Penyerangan terhadap Sunda
Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan karena adanya perjanjian antara
raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan Portugis yang diperkuat dengan pembuatan
tugu peringatan yang disebut Padrao. Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis
diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan
mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran.
Sebelum Benteng tersebut dibangun
oleh Portugis, tahun 1526 Demak mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa,
di bawah pimpinan Fatahillah. Dengan penyerangan tersebut maka tentara Portugis
dapat dipukul mundur ke Teluk Jakarta.
Kemenangan
gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa tepat tanggal 22 Juni 1527 diperingati
dengan pergantian nama menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan Abadi.
Sedangkan penyerangan terhadap Blambangan (Hindu) dilakukan pada tahun 1546, di
mana pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono yang dibantu oleh
Fatahillah, tetapi sebelum Blambangan berhasil direbut Sultan Trenggono
meninggal di Pasuruan. Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, maka terjadilah
perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Trenggono) dengan
Sunan Prawoto (putra Trenggono) dan Arya Penangsang (putra Sekar Sedolepen). Perang
saudara tersebut diakhiri oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang dibantu
oleh Ki Ageng Pemanahan, sehingga pada tahun 1568 Pangeran Hadiwijaya
memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang. Dengan demikian berakhirlah
kekuasaan Demak dan hal ini juga berarti bergesernya pusat pemerintahan dari
pesisir ke pedalaman.
Seperti
yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat
strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai
kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung
antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil
rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin
berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap
pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.
Sebagai
kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga
memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil
pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya
ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di
bidang ekonomi.
3.
Perlawanan
Rakyat Aceh
Sejak Portugis
menduduki Malaka pada tahun 1511, Kerajaan Aceh merupakan saingannya yang
terberat dalam perdagangannya. Sebab banyak pedagang Asia yang memindahkan
kegiatan dagangnya ke Aceh. Pelabuhan Aceh bertambah ramai. Kecuali itu, Aceh
merupakan ancaman bagi kedudukan Portugis di Malaka. Setiap waktu Aceh dapat
menyerbu Malaka.
Persaingan dagang antara Portugis
dan Kerajaan Islam Aceh makin lama makin meruncing. Kemudian meningkat menjadi
permusuhan. Bila armada Portugis berjumpa dengan patroli-patroli angkatan laut
Aceh, terjadilah pertempuran di laut.
Pertempuran semacam itu tidak hanya
terjadi di Selat Malaka, tetapi juga di lautan internasional, antara lain Laut
Merah.
Untuk menghadapi Portugis, Sultan
Aceh mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Kapal-kapal dagangnya yang berlayar
disertai prajurit dengan perlengkapan meriam.
2.
Meminta bantuan meriam serta tenaga
ahlinya dari Turki. Bantuan dari Turki itu diperoleh pada tahun 1567.
3.
Meminta bantuan dari Jepara (Demak) dan
Calicut (India).
Sementara itu, Portugis mempunyai
rencana terhadap Aceh sebagai berikut :
·
Menghancurkan Aceh dengan jalan
mengepungnya selama 3 tahun.
·
Setiap kapal yang berlayar di selat
Malaka akan disergap dan dihancurkan.
Namun ternyata rencana Portugis
tersebut tidak dapat terlaksana. Sebab Portugis tidak memilik armada yang cukup
untuk mengawasi Selat Malaka. Ternyata bukan Portugis yang berhasil
menghancurkan kapal-kapal Aceh, tetapi sebaliknya kapal-kapal Acehlah yang
sering mengganggu kapal-kapal Portugis di selat Malaka.
Bahkan
seringkali armada Aceh menyerang langsung ke markas Portugis di Malaka. Hal itu
terjadi antara lain pada tahun 1629, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar
Muda. Namun demikian serangan-serangan Aceh itu belum berhasil. Permusuhan
antara Aceh dengan Portugis berlangsung terus menerus. Kedua pihak saling
berusaha untuk menghancurkan, tetapi sama-sama tidak berhasil. Sampai akhirnya
Malaka jatuh ke tangan VOC (Belanda) pada tahun 1641.
Strategi Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap
Penjajah VOC
1.
Perlawanan
Rakyat Maluku
Portugis berhasil memasuki Kepulauan
Maluku pada tahun 1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama
berselang orangorang Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan
kedudukannya di Tidore. Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak. Persaingan
itu semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan Ternate
dan Spanyol bersahabat dengan Tidore. Pada tahun 1529 terjadi perang antara
Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini karena kapal-kapal Portugis
menembaki jung-jung dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore. Tentu saja
Tidore tidak dapat menerima tindakan armada Portugis. Rakyat Tidore angkat
senjata. Terjadilah perang antara Tidore melawan Portugis. Dalam perang ini
Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat
kemenangan.
Dengan
kemenangan ini Portugis menjadi semakin sombong dan sering berlaku kasar
terhadap penduduk Maluku. Upaya monopoli terus dilakukan. Maka, wajar jika
sering terjadi letupan-letupan perlawanan rakyat. Sementara itu untuk
menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol dilaksanakan perjanjian
damai, yakni Perjanjian Saragosa pada tahun 1534. Dengan adanya Perjanjian
Saragosa kedudukan Portugis di Maluku semakin kuat. Portugis semakin berkuasa
untuk memaksakan kehendaknya melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di
Maluku. Kedudukan Portugis juga semakin mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan
yang ada di Maluku. Pada tahun 1565 muncul perlawanan rakyat Ternate di bawah
pimpinan Sultan Khaerun/Hairun. Sultan Khaerun menyerukan seluruh rakyat dari
Irian/Papua sampai Jawa untuk angkat senjata melawan kezaliman kolonial
Portugis. Portugis mulai kewalahan dan menawarkan perundingan kepada Sultan
Khaerun. Dengan pertimbangan kemanusiaan, Sultan Khaerun menerima ajakan
Portugis Perundingan dilaksanakan pada tahun 1570 bertempat di Benteng Sao
Paolo. Ternyata semua ini hanyalah tipu muslihat Portugis. Pada saat
perundingan sedang berlangsung, Sultan Khaerun ditangkap dan dibunuh. Apa yang
dilakukan Portugis kala itu sungguh kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan.
Demi keuntungan ekonomi Portugis telah merusak sendi-sendi kehidupan
kemanusiaan dan keberagamaan.
Setelah Sultan Khaerun dibunuh,
perlawanan dilanjutkan di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putera Sultan
Khaerun). Melihat tindakan Portugis yang tidak mengenal nilai-nilai
kemanusiaan, semangat rakyat Maluku untuk melawannya semakin berkobar. Seluruh
rakyat Maluku berhasil dipersatukan termasuk Ternate dan Tidore untuk
melancarkan serangan besar-besaran terhadap Portugis. Akhirnya Portugis dapat
didesak dan pada tahun 1575 berhasil diusir dari Ternate. Orang-orang Portugis
kemudian melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun 1605. Tahun itu
Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon dan kemudian menetap di Timor Timur.
Serangkaian rakyat terus terjadi
terhadap Portugis maupun VOC yang melakukan tindakan kejam dan sewenang-wenang
kepada rakyat. Misalnya pada periode tahun 1635-1646 terjadi serangan sporadis
dari rakyat Hitu yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi. Perlawanan rakyat
ini juga meluas ke Ambon. Tahun 1650 perlawanan rakyat juga terjadi di Ternate
yang dipimpin oleh Kecili Said. Sementara perlawanan secara gerilya terjadi
seperti di Jailolo. Namun berbagai serangan itu selalu dapat dipatahkan oleh
kekuatan VOC yang memiliki peralatan senjata lebih lengkap. Rakyat terus
mengalami penderitaan akibat kebijakan monopoli rempah-rempah yang disertai
dengan Pelayaran Hongi.
Pada tahun 1680, VOC memaksakan
sebuah perjanjian baru dengan penguasa Tidore. Kerajaan Tidore yang semula
sebagai sekutu turun statusnya menjadi vassal VOC, dan sebagai penguasa yang
baru diangkatlah Putra Alam sebagai Sultan Tidore (menurut tradisi kerajaan
Tidore yang berhak sebagai sultan semestinya adalah Pangeran Nuku). Penempatan
Tidore sebagai vassal atau daerah kekuasaan VOC telah menimbulkan protes keras
dari Pangeran Nuku. Akhirnya Nuku memimpin perlawanan rakyat. Timbullah perang
hebat antara rakyat Maluku di bawah pimpinan Pangeran Nuku melawan kekuatan
kompeni Belanda (tentara VOC). Sultan Nuku mendapat dukungan rakyat Papua di
bawah pimpinan Raja Ampat dan juga orang-orang Gamrange dari Halmahera. Oleh
para pengikutnya, Pangeran Nuku diangkat sebagai sultan dengan gelar Tuan
Sultan Amir Muhammad Syafiudin Syah. Sultan Nuku juga berhasil meyakinkan
Sultan Aharal dan Pangeran Ibrahim dari Ternate untuk bersama-sama melawan VOC.
Bahkan dalam perlawanan ini Inggris juga member dukungan terhadap Sultan Nuku.
Belanda kewalahan dan tidak mampu membendung ambisi Nuku untuk lepas dari
dominasi Belanda. Sultan Nuku berhasil mengembangkan pemerintahan yang
berdaulat melepaskan diri dari dominasi Belanda di Tidore sampai akhir hayatnya
(tahun 1805).
2.
Perlawanan
Rakyat Mataram
Sultan Agung (1613-1645)
adalah raja terbesar Mataram yang bercita-cita mempersatukan seluruh Jawa di
bawah Mataram dan mengusir Kompeni (VOC) dari Pulau Jawa. Untuk merealisir
cita-citanya, ia bermaksud membendung usaha-usaha Kompeni menjalankan penetrasi
politik dan monopoli perdagangan.
Pada tanggal 18 Agustus 1618,
kantor dagang VOC di Jepara diserbu oleh Mataram. Serbuan ini merupakan reaksi
pertama yang dilakukan oleh Mataram terhadap VOC. Pihak VOC kemudian melakukan
balasan dengan menghantam pertahanan Mataram yang ada di Jepara. Sejak itu,
sering terjadi perlawanan antara keduanya, bahkan Sultan Agung berketetapan
untuk mengusir Kompeni dari Batavia
Serangan besar-besaran
terhadap Batavia, dilancarkan dua kali. Serangan pertama, pada bulan Agustus
1628 dan dilakukan dalam dua gelombang. Gelombang I di bawah pimpinan Baurekso
dan Dipati Ukur, sedangkan gelombang II di bawah pimpinan Suro Agul-Agul,
Manduroredjo, dan Uposonto. Batavia dikepung dari darat dan laut selama tiga
bulan, tetapi tidak menyerah. Bahkan sebaliknya, tentara Mataram akhirnya terpukul
mundur.
Serangan kedua dilancarkan
pada bulan September 1629 di bawah pimpinan Dipati Purbaya dan Tumenggung
Singaranu. Akan tetapi serangan yang kedua ini pun juga mengalami kegagalan.
Kegagalan serangan-serangan tersebut disebabkan:
- Kalah persenjataan.
- Kekurangan persediaan makanan, karena lumbung-lumbung persediaan makanan yang dipersiapkan di Tegal, Cirebon, dan Kerawang telah dimusnahkan oleh Kompeni.
- Jarak Mataram - Batavia terlalu jauh.
- Datanglah musim penghujan, sehingga taktik Sultan Agung untuk membendung sungai Ciliwung gagal.
- Terjangkitnya wabah penyakit yang menyerang prajurit Mataram.
3.
Perlawanan
Rakyat Makassar
Pada abad ke-17 di Sulawesi
Selatan telah muncul beberapa kerajaan kecil seperti Gowa, Tello, Sopeng, dan
Bone. Di antara kerajaan tersebut yang muncul menjadi kerajaan yang paling kuat
ialah Gowa, yang lebih dikenal dengan nama Makasar.
Adapun faktor-faktor yang
mendorong perkembangan Makasar, antara lain
- Letak Makasar yang sangat strategis dalam lalu lintas perdagangan Malaka-Batavia-Maluku.
- Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511.
- Timbulnya Banjarmasin sebagai daerah penghasil lada, yang hasilnya dikirim ke Makasar.
Usaha penetrasi kekuasaan
terhadap Makasar oleh VOC dalam rangka melaksanakan monopolinya menyebabkan
hubungan Makasar - VOC yang semula baik menjadi retak bahkan akhirnya menjadi
perlawanan. Hal ini dikarenakan Makasar selalu menerobos monopoli VOC dan
selalu membantu rakyat Maluku melawan Kompeni. Pertempuran besar meletus pada
tahun 1666, ketika Makasar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1670).
Dalam hal ini VOC berkoalisi dengan Kapten Jonker dari Ambon, Aru Palaka dari
Bone, dan di pihak VOC sendiri dipimpin oleh Speelman. Makasar dikepung dari
darat dan laut, yang akhirnya pertahanan Makasar berhasil dipatahkan oleh VOC.
Para pemimpin yang tidak mau menyerah, seperti Karaeng
Galesung dan Karaeng Bontomarannu melarikan diri ke Jawa (membantu perlawanan
Trunojoyo).
Sultan Hasanuddin dipaksa
menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667,
yang isinya :
- Wilayah Makasar terbatas pada Goa, wilayah Bone dikembalikan kepada Aru Palaka.
- Kapal Makasar dilarang berlayar tanpa izin VOC.
- Makasar tertutup untuk semua bangsa, kecuali VOC dengan hak monopolinya.
- Semua benteng harus dihancurkan, kecuali satu benteng Ujung Pandang yang kemudian diganti dengan nama Benteng Roterrdam.
- Makasar harus mengganti kerugian perang sebesar 250.000 ringgit.
Sultan Hasanuddin walaupun
telah menandatangani perjanjian tersebut, karena dirasa sangat berat dan sangat
menindas; maka perlawanan muncul kembali (1667-1669). Makasar berhasil
dihancurkan dan dinyatakan menjadi milik VOC.
4.
Perlawanan Rakyat Banten
Banten memiliki posisi yang
strategis sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh karena itu sejak semula
Belanda ingin menguasai Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya VOC
membangun Bandar di Batavia pada tahun 1619. Terjadi persaingan antara Banten
dan Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan internasional. Oleh
karena itu, rakyat Banten sering melakukan seranganserangan terhadap VOC.
Sultan Ageng Tirtayasa
Tahun 1651, Pangeran Surya
naik tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir Mahmud
Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al- Ma’ali Ahmad yang wafat pada 1650.
Pangeran Surya bergelar Sultan Abu al-Fath Abulfatah. Sultan Abu al-Fath
Abdulfatah ini lebih dikenal dengan
nama Sultan Ageng Tirtayasa.
nama Sultan Ageng Tirtayasa.
Ia berusaha memulihkan
posisi Banten sebagai Bandar perdagangan internasional dan sekaligus menandingi
perkembangan di Batavia. Beberapa hal yang dilakukan misalnya :
- Mengundang para pedagang Eropa lain seperti Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis.
- Sultan Ageng juga mengembangkan hubungan dagang dengan negara-negara Asia seperti Persia, Benggala, Siam, Tonkin, dan Cina.
Perkembangan di Banten
ternyata sangat tidak disenangi oleh VOC. Oleh karena itu, untuk melemahkan
peran Banten sebagai Bandar perdagangan, VOC sering melakukan blokade.
Jung-jung Cina dan kapal-kapal dagang dari Maluku dilarang meneruskan perjalanan
menuju Banten.
Sebagai balasan Sultan
Ageng juga mengirim beberapa pasukannya untuk mengganggu kapal-kapal dagang VOC
dan menimbulkan gangguan di Batavia. Dalam rangka memberi tekanan dan
memperlemah kedudukan VOC, rakyat Banten juga melakukan perusakan terhadap
beberapa kebun tanaman tebu milik VOC. Akibatnya hubungan antara Banten dan
Batavia semakin memburuk.
Menghadapi serangan
pasukan Banten, VOC terus memperkuat kota Batavia dengan mendirikan
benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Noordwijk. Dengan tersedianya
beberapa benteng di Batavia diharapkan VOC mampu bertahan dari berbagai
serangan dari luar dan mengusir para penyerang tersebut.
Sementara itu untuk
kepentingan pertahanan, Sultan Ageng memerintahkan untuk membangun saluran
irigasi yang membentang dari Sungai Untung Jawa sampai Pontang. Selain
berfungsi untuk meningkatkan produksi pertanian, saluran irigasi dimaksudkan
juga untuk memudahkan transportasi perang. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng
ini memang banyak dibangun saluran air/irigasi. Oleh karena jasa-jasanya ini
maka sultan digelari Sultan Ageng Tirtayasa (tirta artinya air).
Serangan dan gangguan
terhadap VOC terus dilakukan. Di tengah-tengah mengobarkan semangat anti VOC
itu, pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota Abdulnazar
Abdulkahar sebagai raja pembantu yang lebih dikenal dengan nama Sultan
Haji.
Sebagai raja pembantu
Sultan Haji bertanggung jawab urusan dalam negeri, dan Sultan Ageng Tirtayasa
bertanggung jawab urusan luar negeri dibantu puteranya yang lain, yakni
Pangeran Arya Purbaya.
Pemisahan urusan
pemerintahan di Banten ini tercium oleh perwakilan VOC di Banten W. Caeff. Ia
kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji agar urusan pemerintahan di Banten
tidak dipisah-pisah dan jangan sampai kekuasaan jatuh ke tangan Arya
Purbaya.
Karena hasutan VOC ini
Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya. Sultan Haji juga sangat khawatir,
apabila dirinya tidak segera dinobatkan sebagai sultan, sangat mungkin jabatan
sultan itu akan diberikan kepada Pangeran Arya Purbaya.
Tanpa berpikir panjang
Sultan Haji segera membuat persekongkolan dengan VOC untuk merebut tahta
kesultanan Banten. Timbullah pertentangan yang begitu tajam antara Sultan Haji
dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup
membantu Sultan Haji untuk merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat
syarat.
1)
Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC,
2)
monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus
menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina,
3)
Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar
janji, dan
4)
pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan
pedalaman Priangan segera ditarik kembali. Isi perjanjian ini disetujui oleh
Sultan Haji.
Pada tahun 1681 VOC atas
nama Sultan Haji berhasil merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil
dikuasai. Sultan Haji menjadi Sultan Banten yang berkedudukan di istana
Surosowan. Sultan Ageng kemudian membangun istana yang baru berpusat di
Tirtayasa. Sultan Ageng berusaha merebut kembali Kesultanan Banten dari Sultan
Haji yang didukung VOC.
Pada tahun 1682 pasukan
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan. Sultan Haji
terdesak dan segera meminta bantuan tentara VOC. Datanglah bantuan tentara VOC
di bawah pimpinan Francois Tack.
Pasukan Sultan Ageng
Tirtayasa dapat dipukul mundur dan terdesak hingga ke Benteng Tirtayasa. Sultan
Ageng Tirtayasa akhirnya meloloskan diri bersama puteranya, pangeran Purbaya ke
hutan Lebak. Mereka masih melancarkan serangan sekalipun dengan bergerilya.
Tentara VOC terus memburu. Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya yang
kemudian bergerak ke arah Bogor.
Baru
setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa berhasil
ditangkap dan ditawan di Batavia sampai meninggalnya pada tahun 1692.
KESIMPULAN
Sampai dengan abad 18 penetrasi kekuasaan belanda
semakin besar dan meluas, bukan hanya dalam bidang ekonomi dan politik saja
namun juga meluas ke bidang-bidang lainnya seperti kebudayaan dan agama.
Penetrasi dan dominasi yang semakin besar dan meluas terhadap kehidupan bangsa
Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai peristiwa perlawanan dan perang
melawan penindasan dan penjajahan bangsa Eropa. Tindakan sewenang-wenang dan
penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial Eropa telah menimbulkan
kesengsaraan dan kepedihan bangsa Indonesia. Menghadapi tindakan penindasan
itu, rakyat Indonesia memberikan perlawanan yang sangat gigih. Perlawanan
mula-mula ditujukan kepada kekuasaan Portugis dan VOC.
Di atas
telah digambarkan bagaimana daerah-daerah di Indonesia satu persatu jatuh ke
tangan Belanda. Dengan berbagai cara, rakyat Indonesia di berbagai daerah
berusaha terus untuk bertahan. Bila semua raja-raja di Indonesia memiliki
armada-armada niaga yang besar, maka setelah kerajaannya ditundukkan oleh
Belanda, maka armada-armadanya segera ditumpas oleh Belanda. Di samping itu,
peraturan Belanda yang monopolitis mengakibatkan terdesaknya ke sudut kebebasan
perdagangan rakyat Indonesia. Karena berjuang untuk kelangsungan hidupnya,
rakyat yang hidup di pantai-pantai selalu berusaha menerobos monopoli Belanda.
Tindakan seperti itu oleh Belanda disebut perdagangan gelap atau penyelundup.
Namun demikian, tindakan-tindakan rakyat Indonesia tersebut jelas merupakan
bentuk perlawanan yang tak henti-hentinya terhadap imperialisme Barat.
Indonesia memperoleh
kemerdekaan dalam waktu yang lama. Banyak para pahlawan yang gugur demi
mempertahankan bumi pertiwi tercinta. Mereka mengorbankan seluruh jiwa dan raga
untuk mengejar sebuah kata merdeka. Sebelum tahun 1908, telah banyak bangsa
lain yang ingin menjajah dan menguasai Indonesia. Mereka banyak memeras,
menindas, dan merampas hak-hak rakyat Nusantara. Banyak perlawanan dari
pahlawan-pahlawan kita yang masih bersifat kedaerahan. Muncul banyak
tokoh-tokoh yang memegang andil besar dalam perlawanan terhadap penjajahan yang
bangsa lain lakukan.
Tugas kita sebagai penerus
bangsa adalah mempertahankan kemerdekaan ini, tetap menjaga semangat perjuangan
dan mempertahankan kebudayaan nenek moyang kita. Namun di jaman globalisasi
sekarang ini, semangat generasi muda penerus bangsa kian menurun dan sangat
memprihatinkan. Melihat akan gigihnya para pejuang daerah kita terdahulu,
harusnya para pemuda merasa malu. Semestinya para pemuda generasi baru harus
bisa melanjutkan perjuangan para pendahulu yang rela berkorban tanpa jasa dan
berani memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagai generasi muda seharusnya
dapat melanjutkan tonggak harapan ini untuk mengisi kemerdekaan dengan cara
meningkatkan akhlak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar